NAGAPOS.COM | Medan – Ribuan lampion menggantung indah di langit Kesawan Square, Sabtu malam (21/2/2026). Cahaya merah menyala seolah menjadi saksi kebahagiaan warga dalam perhelatan bertajuk “Harmoni Imlek Dalam Keberagaman Kota Medan 2026.”
Malam Minggu itu bukan sekadar pesta budaya.
Ia menjelma menjadi panggung persatuan—di mana masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul, tersenyum, dan merayakan kebersamaan.
Di antara para tamu undangan, kehadiran Anggota DPRD Kota Medan Lili dan Agus Setiawan menjadi sorotan.
Keduanya tampak berbaur hangat dengan masyarakat, memperlihatkan bahwa wakil rakyat hadir bukan hanya di ruang sidang, tetapi juga di ruang-ruang kebersamaan warga.
Turut hadir Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Ketua TP PKK Kota Medan Airin, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap beserta istri, Sekda Kota Medan, jajaran OPD, camat, lurah, Ketua DPRD Kota Medan Wong Chun Sen Tarigan, Wakil Ketua DPRD Kota Medan Syaiful Ramadhan, Anggota DPRD Sumut Hasyim, Kapolsek Medan Barat, serta Ketua Walubi Kota Medan Arman Chandra dan tokoh masyarakat Tionghoa.
Lampion, Harapan, dan Solidaritas
Ketua panitia Benny Sinomba Siregar menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara tersebut.
Ia berharap perayaan Imlek menjadi momentum mempererat hubungan pemerintah dan masyarakat.
Hal senada disampaikan Arman Chandra.
Ia mengungkapkan rasa bangga atas kepemimpinan Kota Medan yang dinilai menjunjung tinggi solidaritas dan kemajemukan.
“Kota Medan adalah kota dengan kekayaan seni dan budaya. Mari kita jaga bersama dengan saling mengasihi agar Medan semakin maju dan modern,” ujarnya.
Peran Lili dan Agus Setiawan:
Hadir di Tengah Rakyat
Di tengah gemerlap perayaan, Lili dan Agus Setiawan menunjukkan komitmen mereka dalam merawat kebersamaan lintas etnis dan agama.
Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa politik bukan sekadar kebijakan, tetapi juga tentang merawat harmoni sosial.
Bagi keduanya, Harmoni Imlek bukan hanya seremoni tahunan, melainkan pesan moral bahwa Kota Medan berdiri kokoh karena keberagaman yang dirawat bersama.
Malam Harmoni Penuh Harapan
“Lampion yang menyala adalah simbol harapan yang tak pernah padam.”
“Keberagaman bukan sekat, melainkan jembatan menuju persaudaraan.”
“Pemimpin sejati hadir di tengah rakyat, bukan hanya di balik meja.”
“Budaya yang dirayakan bersama akan melahirkan kota yang kuat.”
“Solidaritas adalah cahaya yang menerangi perbedaan.”
“Kemajemukan adalah kekayaan, jika dirawat dengan cinta.”
“Medan akan maju bukan karena megahnya bangunan, tetapi karena hangatnya kebersamaan.”
Malam itu, Kesawan bukan hanya dihiasi lampion. Ia dihiasi senyum, harapan, dan keyakinan bahwa Kota Medan akan terus melangkah sebagai kota modern yang berakar kuat pada toleransi dan kebersamaan.
(Wilfried Hutabarat)



