|

‎Warga Eka Rosa Laporkan SPPG Gedung Johor 4 Ke DLH Kota Medan

Foto (ist) : Indra Sahli, warga GG Eka Rosa saat melaporkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gedung Johor 4 yang beralamat di Jalan Melinjo Raya/ GG Eka Rosa no 8 AB, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan,  ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan, Senin (26/10/26).
NAGAPOS.COM | MEDAN - Indra Sahli (35), warga GG Eka Rosa melaporkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gedung Johor 4 yang beralamat di Jalan Melinjo Raya/ GG Eka Rosa no 8 AB, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan,  ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan, Senin (26/10/26).

Dalam laporannya ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, bahwa unit pelaksana atau dapur umum yang bermitra dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memproduksi dan mendistribusikan Makan Bergizi Gratis (MBG) dibawah naungan Yayasan Bhakti Nurwasita Nusantara ini, dianggap telah membuang limbah secara langsung tanpa proses pemurnian ke parit/got umum dan kolam budidaya ikan miliknya yang sudah mulai beroperasi sejak diawal tahun 2026.

‎Akibat pencemaran itu, ikan-ikan yang dibudidayakannya ditambak kolam sejak 2019 tersebut mati secara massal. Selaku pembudidaya ikan air tawar berjenis lele, nila dan gurame, Indra pun mengalami kerugian secara pribadi hingga mencapai puluhan juta rupiah.

Tidak hanya itu, secara umum, limbah berminyak dan berlemak ini juga meresahkan masyarakat setempat karena jentik larva nyamuk yang mulai berkembang dan juga merugikan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup sekitarnya.

Hal ini diduga karena Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mereka tidak aktif alias belum di-operasionalkan. Masalah ini diketahui oleh awak media ketika bertemu dengan Joseph Security SPPG.

Saat ditemui usai melaporkan perkara tersebut, Indra mengaku telah menyertai berbagai bukti dokumentasi lengkap dan konkrit dalam laporan ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan dan juga Pemerintah Kota (Pemko) Medan.

‎Indra juga mengatakan selain mengalami kerugian akibat limbah, kesehatan warga juga terancam.

‎"Semenjak SPPG dibuka, semua ikan mati, padahal orang itu (SPPG Gedung Johor 4) berjanji ganti rugi. Sekarang ini, karena tidak ada ikan, muncul pula jentik-jentik nyamuk, kami warga sekitar takut kena DBD," ungkap Indra cemas.

Selain ke DLH Kota Medan. Indra juga sebelumnya sudah melaporkan ke Kepala Lingkungan setempat dan berusaha menemui pihak pengelola SPPG. Namun tidak kunjung mendapat tanggapan.

Indra juga berharap laporannya ini segera di tindak lanjuti oleh DLH Kota Medan dan juga berharap ganti rugi yang dijanjikan dalam kwitansi bermaterai 10 ribu agar ditepati, karena budidaya tambak kolam ikan miliknya dapat membantu ekonomi keluarganya.

‎Terkait hal ini, Badan Gizi Nasional juga telah mengatur dalam regulasi BGN Nomor 1 Tahun 2026 mengenai kewajiban pengelolaan sisa pangan, sampah, dan air limbah domestik, Undang Dasar dan Landasan Umum Nomor 32, Undang-undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja (Klaster Lingkungan Hidup), Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 dan Peraturan Daerah dengan sanksi Administratif, Pidana kurungan badan dan juga Perdata dengan denda mencapai milyaran rupiah.

Sementara itu, sebelumnya awak media telah mengkonfirmasi via WhatsApp kepada Yusuf selaku Mitra atau pihak dari SPPG Yayasan Bhakti Nurwasita Nusantara.

Yusuf menyatakan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pihak SPPG mereka memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) standard SNI yang sudah disetujui.

Yusuf juga menegaskan tidak ada pembuangan IPAL dari dapur MBG pihak mereka ke tambak ikan, tetapi yang ada buangannya ke parit umum yang digunakan seluruh warga.

Yusuf juga mengatakan hal tersebut sudah dikoordinasikan dengan Kepling dan Babinsa melalui mediasi namun Indra tidak hadir.‎

‎"jangan salah ya bg, pertama Dapur mbg kita sudah ada ipal standar sni yg sudah disetujui sehingga kami bs berjalan, kedua tidak ada buangan ipal ke tambak, itu adalah buangan parit yg seluruh warga muara kesana, krn indra sndiri bertambak di parit umum, dan Hal ini sudah dikoordinasikan dgn kepling dan babinsa," terang Yusuf.

"Output air sudah bersih krn ada grastrap setiap zink dan ada bio Ipal sbg filter akhir. Krn sy dijakarta uda 5 minggu. Koordinasi aja dgn kepling bg, waktu mediasi di September, Kata team sy Indra ga datang, kepling dan babinsa nunggu sampe magrib, dia tidak datang. Trakhir kami bubar," ungkap Yusuf lagi dan mengaku dia sudah 5 Minggu berada di Jakarta. (Red).

‎

Komentar

Berita Terkini